Cerpen Iseng : Cobaan Setengah Surat

COBAAN SETENGAH SURAT

__________________________________________________
Time To Perpustaka

Pagi dengan gemuruh dan hujan, hari itu membuat si Boim terlambat masuk alias telat pergi ke kampus di tambah lagi jalanan yang macet. Maklum aja dia seneng banget berangkat ke kampus siangan. Walaupun mata agak berat dia tetep semangat ngampus. 

“Tok tok tok....(suara ketukan pintu), permisi buk, boleh masuk ?” tanya Boim.
“Maaf, penerimaan mahasiswa baru udah tutup ?” jawab dosen sedang mengajar.
“Bukan buk, saya mau kuliah dengan ibuk ?” jawab Boim dengan muka agak bingung.
“Saya yang terlalu cepat apa kamu yang terlalu lambat” Skak dosen dengan muka merah mengkilap.

Walau omongan dosen tadi penuh misteri akhirnya si Boim ngerti, langsung aja dia ngacir tak lupa dia minta maaf ke dosen tersebut. Kalau udah di usir gini, si Boim jadi bingung mau kemana. Kalau balik ke kos sama aja “bohong” soalnya masih semangat. Boim sekarang udah ngekos dan sekarang telah di nobatkan sebagai buronan kos karena bon-bon kos udah kayak tumpukan revisi skripsi. Pernah beberapa kali ketangkep basah sama ibu kosnya tapi dengan trik manipulasinya, lewat tuh ibu kos. Sejenak terlintas di pikiran Boim, mending ke perpustakaan aja mana tau ada yang baru. Boim emang jarang pergi ke perpus boro-boro ke perpus, ngelihat buku aja dia phobia, absurd....

***

“Wah, gini rupanya perpus kampus gw, emang nggak besar tapi apa adanya sama banget kayak gw” ceplos Boim dalam hati.

Pikiran Boim emang aneh, entah apa yang tersirat di pikirannya. Dia pergi berjalan menuju rak buku akutansi. Buku-buku yang penuh dengan tabel dan angka-angka yang menggelitik pikiran dan lagian itukan bukan jurusan dia. Setelah lama memilih dan menggubrak-abrik buku-buku yang ada di rak, dia terkaget heran.

“Loh, kenapa buku dengan judul seperti ini bisa nyasar di sini, ya ?” tanya Boim.

Dengan melihat judul buku tersebut, entah kenapa mata Boim langsung berbinar-binar, Boim merasa tertarik. Seakan-akan dia percaya, telah ditakdirkan Tuhan untuk membaca buku tersebut. Tanpa pikir panjang, si Boim langsung mengambil ancang-ancang posisi duduk agak pojokkan dan paling belakang. Boim emang senang duduk paling belakang yang posisinya agak pojokkan, soalnya selain bisa nyantai, boim juga bisa ngelihat cewek-cewek kutu buku yang cantik. Halaman demi halaman dia baca, dia tercengang ketika membalikkan sebuah halaman yang ke-21, ada sebuah surat bewarna putih dengan gambar setengah hati yang bertuliskan “Black Love” di pojok kanan .

“Surat...., kok bisa. Surat cinta atau bon kos gw nih yang di kemas dalam bentuk surat cinta ???” tanya Boim.

Semakin penasaran Boim di buatnya. Boim bertanya-tanya apa isinya, ya. Tanpa sadar tangannya mulai membuka isi surat tersebut.

“Apa benar begitu adanya ??? inikah takdir Tuhan ”,  kritiknya di iringi senyum sumringah.
Cepat-cepat Boim merapikan suratnya dan menyelipkan kembali surat yang di bacanya ke dalam buku tadi yang dia ambil. Dia terkejut, saat melihat seorang wanita bejilbab hitam dengan wajah innouncent dan mata yang bulat hitam, berdiri tepat di depannya. Kebetulan saat itu suasana perpus sedang sepi karna hampir tutup.
“Hey, maaf mengganggu. Kamu tau letak buku sejarah Indonesia, nggak ?” cela wanita asing itu.

Boim pura-pura nggak dengar, biar di kira fokus banget. Dengan santai Boim melihat ke arah cewek berperawakan putih dan gemesin itu.

“Oh itu, kayaknya nggak ada deh. Soalnya perpus kampus inikan tentang buku-buku jurusan doank. Tapi kalo kamu mau, besok aku pinjamin bukunya kebetulan aku ada.” jawab Boim dengan maksud tertentu.
Padahal bukunya nggak ada. Pikir Boim, pinjam aja sama Joni si kutu buku, temen sekostnya Boim, mungkin aja dia ada. Joni emang “gila” membaca, dari buku-buku pelajaran sampai bon - bonnya Boim, dia koleksi buat bukti sejarah.

“Boleh, tolong ya soalnya penting banget. Besok kita ketemuan di perpus siap sholat ashar, ok?”, kata wanita asing itu.
Dalam hati Boim merasa senang, tumben-tumben cewek mau ngajak dia janjian. Biasanya... yaa biasa. Boim sempat mikir-mikir sejenak.
“Hmmm, ok bisa.”, jawab Boim (sok mikir lama).

Wanita itu langsung pergi tanpa pamit ke Boim. Boim mah, udah paham banget tingkah laku cewek, ada perlunya aja baru nempel. Boim jadi jengkel sama dirinya sendiri karna kesempatan kenalan sama tu cewek gak kesampaian. Melihat sang penjaga perpus yang mukanya mulai berubah Boim mulai merinding dan takut, tanpa pikir panjang Boim langsung cabut, dari pada di usir mending inisatif aja deh, lagian udah mau menjelang malam juga. Boim hampir lupa mengembalikan buku yang di bacanya tadi, untung aja dia ingetnya cepat, kalo gak....gawat !

By : Boy Hilman
                                        Bersambung...

NB : Saya lagi menunggu kritikan kawan-kawan tentang cerita saya yang di atas, mohon bantuannya agar saya dapat menulis dengan baik lagi dan tentunya memiliki sebuah makna dan pesan moral.

Komentar

Postingan Populer